Ketika Mahasiswa Menerjemahkan “Blue Economy”



Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Youth Think Thank dari berbagai Universitas di Indonesia yang terpilih dalam kompetisi essay tentang Blue Economy (Ekonomi Biru) menguraikan ide dan gagasanya dalam seminar Ekonomi Biru.  Kegiatan diselenggarakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui National Coordination Comeettee for Coral Triangle Initiative (NCC-CTI)  bekerjasama dengan WWF Indonesia, pada 4 Desember 2012 lalu di Hotel Golden Flower, Bandung.

Tujuan dari Youth Think Tank adalah menggali ide kreatif usaha yang bisa dilakukan dunia usaha sesuai dengan ‘semangat’ Ekonomi Biru. Mereka akan mengambil peran dalam menantang dunia usaha di pertemuan ke-tiga Forum Bisnis Regional (The 3rd Coral Triangle Regional Business Forum / 3rd CT-RBF) di Denpasar, Bali pada 25-27 Maret 2013 mendatang (www.ctirbf2013.com). CT-RBF adalah sebuah pertemuan forum bisnis yang melibatkan enam negara di kawasan segitaga terumbu karang dunia yakni Indonesia, Malaysia, Philipina, Papua Nugini, Timor Leste, dan Solomon.

Drajad Sarwo Seto (23 tahun) dari Universitas Gadjah Mada mempresentasikan ide kreatif membuat produk Silase dari pengolahan limbah perut dan kulit ikan di Pantai Baron, Yogyakarta. Silase adalah limbah ikan yang diolah untuk campuran pakan ternak (mamalia, unggas, dan ikan).
Pantai Baron terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjung sari, Gunung Kidul, Yogyakarta. Pantai ini berupa teluk diapit oleh dua buah bukit disisi kanan dan kirinya. Pasirnya kecoklatan dengan jajaran perahu nelayan. Pantai ini menjadi tempat wisata favorit keluarga dan anak-anak muda termasuk Seto dan kawan kawannya sekampus untuk berakhir pekan, sekaligus menjadi tempat praktikum keilmuan mereka di jurusan Perikanan.
“Saya dan teman-teman sering ke Pantai Baron dan  makan ikan disana. Tetapi rasa ikan yang enak terganggu bau tak sedap dari limbah ikan, sangat menyengat dan lalat berterbangan,” ungkap Seto, pemuda yang hobi jalan-jalan dan menyelam ini.
Menurut data penelitian Seto, pada tahun 2011 terdapat 26 rumah makan di Pantai Baron yang menyediakan hidangan ikan bakar. Wisatawan bisa memesan langsung diwarung atau membelinya di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang ada disana, kemudian minta dibakarkan di rumah makan tersebut. Sayangnya, isi perut dan sisik ikan ini dibuang begitu saja mengundang lalat berdatangan dan tentunya menghasilkan bau tidak sedap.
Seto bersama-sama teman-temannya yang aktif di laboratorium hidrobiologi mengadakan penelitian untuk mengatasi persoalan limbah ikan dan menjadikannya produk bernilai tambah. Melalui serangkaian penelitian dan uji coba, mereka berhasil membuat  menciptakan Silase sebagai produk campuran bahan ternak.
Silase terbuat dari olahan limbah perut dan sisik ikan dengan asam formiat dan asam propionate. Asam dapat diganti asam cuka dengan kadar tertentu. Olahan kemudian disimpan dalam ember tertutup selama 6-7 hari. Selama proses itu adonan secara berkala diaduk agar tercampur merata. Proses ini akan menghasilkan Silase berbentuk cair yang dapat dicampurkan pada dedak atau bekatul.
Seto sekawan tak segan membagi ilmu membuat Silae kepada warga desa pantai Baron. Inovasi mereka berguna menjadi pakan ternak bagi program budidaya LELAKI (Lele Lahan Kering) serta peternakan sapi dan kambing warga.

“Setelah masyarakat tahu membuat Silase, tidak ada lagi lalat dan bau tak sedap dari sampah perut ikan di pantai Baron. Kami juga jadi sangat enak makan ikan. Masyarakat juga senang karena bisa mendapatkan pendapatan tambahan.” disimpulkan Seto dengan bangga.
Selain masyarakat Baron, Inovasi mereka memperoleh penghargaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI), Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk kategori pengabdian masyarakat di tahun 2011.
Selain Seto, Youth Think Thank lainnya adalah Ni Putu Lilis Aristiarini (20 tahun), mahasiswi jurusan Destinasi Pariwisata, Universitas Udayana, Bali juga ikut menawarkan ide bisnis kreatif serat kelapa (coco fiber). Awalnya Ia sedih melihat limbah buah kelapa berserakan di daerah tujuan wisata seperti Pantai Kuta, Pura Besakih, dan Pura Tanah Lot. Limbah ini berasal dari pedagang es kelapa muda dari restoran dan pedagang kaki lima yang  berjualan dikawasan tersebut. Lilis kemudian memfokuskan penelitian dan eksperimennya di lokasi wisata PuraTanah Lot.
“Saya pikir turis tidak datang ke Bali untuk melihat sampah. Ini merusak citra pariwisata Bali. ” ungkap Lilis geram.
Menurut Lilis, setiap harinya kawasan wisata di Pura Tanah Lot  menghasilkan 4 meter kubik sampah. Jumlah sampah ini terus bertambah  seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisata, terutama musim liburan dan kegiatan ritual. Sampah kelapa adalah jenis yang paling banyak ditemukan. Petugas sampah kerepotan karena pedagang tidak disiplin membuang sampah kelapa ditempatnya dan membiarkan teronggok didepan warung mereka.
 “Sektor pariwisata penyumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah) terbesar bagi Propinsi Bali. Industri pariwisata menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Bali.” imbuh Lilis di tengah presentasinya.
Lilis termasuk mahasiswi yang tidak hanya mengeluhkan kondisi tersebut, ia berupaya mencari solusi dengan meneliti secara serius mengubah limbah buah kelapa menjadi material baru berupa serat kelapa (coco fiber). Diperlukan beberapa proses mengolahnya hingga menjadi serat kelapa dengan kualitas tertentu. Dengan menggunakan mesin pengurai rakitan, serat kelapa yang dihasilkan selanjutnya di potong-potong dengan panjang minimum 10 sentimeter. Mesin rakitan tersebut juga secara otomatis menghasilkan serbuk kelapa (coco peat). Selain mesin pengurai, mesin penyaring ditambahkan untuk memisahkan serat berukuran pendek beserta serbuk kelapa yang tersisa. Produk serat kelapan yang dihasilkan dari mesin ini kemudian di cetak berbentuk kubus yang kemudia diekspor sebagai material bagi industri sofa, matras, dan lainnya.
 “Kalau ada yang ingin membuka usaha untuk ini, saya siap membantu mengkalkulasi perhitungan bisnisnya,” disampaikan Lilis dengan senyum lebar.
Lilis menantang pelaku usaha dan pemerintah untuk mengembangkan ide dan gagasan ini baik skala kecil maupun besar. Lilis menimbang tidak hanya limbah sampah buah kelapa yang ada  di sekitar kawasan wisata Tanah Lot saja yang tertangani, namun seluruh limbah buah kelapa yang dihasilkan dari seluruh industri restoran dan perhotelan yang ada di Bali. Dapat dibayangkan inovasi ini juga akan memberikan kontribusi terbukanya lapangan pekerjaan baru bagi warga Bali.
“Saya suka dengan ide ini. Saya pikir inilah ‘semangat’ Blue Economy. Saatnya memulai dari apa yang ada disekitar kita, bukan sesuatu yang belum ada dan masih diawang-awang. Seringkali, orang berpikir harus memulai Blue Economy dari sesuatu yang besar” dikatakan Dr. Lida Pet-Soede, Koordinator WWF Coral Triangle Global Initiative, menanggapi pemaparan mahasiswa ini. 
Peserta lainnya turut serta menerjemahkan ekonomi biru  seperti gagasan tentang Strategi Bisnis Didalam Daerah Kawasan Lindung Laut yang disampaikan oleh  Albertus Prabu Siagian, mahasiswa Uninversitas Indonesia – Jakarta; gagasan tentang Lokalisasi Komoditas Unggulan Kunci Keberhasilan Industri Perikanan dipresentasikan oleh Rahmad Royan dari Universitas Airlangga – Surabaya;  gagasan tentang Sustainable Seafood disampaikan oleh Evi Nurul Ihsan, mahasiswa Universitas Diponegoro – Semarang; gagasan tentang Transplantasi Karang Sebagai Strategi Corporate Responsibility disampaikan oleh Kurniawati, mahasiswi Universitas Budi Luhur – Jakarta.   
Pada sesi diskusi mahasiswa berkesempatan menggali kembali ide-ide bisnis yang mereka tawarkan kedalam konsep Ekonomi Biru lebih mendalam. Utamanya bagaimana agar konsep ini bisa diterima dan menarik oleh dunia usaha. “Dari sisi bisnis, pengusaha akan melihat apa utungnya bagi mereka bila menerapkan konsep ini, insentif atau dukungan apa yang akan mereka peroleh bila mereka memulainya?”, ditanyakan oleh Albertus Prabu Siagian, salah satu Youth Think Thank yang kemudian menjadi bahasan seru dalam sesi diskusi mereka. 
Diakhir seminar mereka sepakat bahwa penerapan Ekonomi Biru adalah mengelola sumber daya lokal seoptimal mungkin,  memerlukan sumber daya manusia yang kreatif, dipadu dengan inovasi teknologi untuk memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana. Mereka juga mengharapkan keseriusan pemerintah untuk menciptakan iklim kewirausahaan yang baik dengan regulasi yang mendukung. Pihak pemerintah dan swasta diharapkan beinvestasi dalam bidang penelitian bagi pengembangan teknologi yang ramah lingkungan. Langkah awal bisa dimulai dari universitas sebagai lembaga pencetak sumber daya manusia yang berkualitas.
 “Saya melihat ada semangat Ekonomi Biru pada Youth Think Thank, saya berharap mahasiswa nanti dapat menyampaikan solusi atau ide ide bisnisnya kepada para pihak swasta pada 3rd Coral Triangle Regional Businness Forum di Nusa Dua bali mendatang” dikatakan oleh Victor PH Nikijuluw, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia, sembari menutup rangkaian seminar itu. (HKokoh)
Kontak: Dewi Satriani, Manajer Komunikasi Program Kelautan WWF-Indonesia, dsatriani@wwf.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s