PAPUA BENTENG TERAKHIR HUTAN TROPIS INDONESIA (Bag.II)


Hutan Indonesia merupakan kawasan yang kaya akan sumber daya alam hayati dan menjadi negara ketiga pemilik hutan tropis terbesar di dunia setelah hutan Amazone di Brazil dan Congo Bazin di RDC dan Kamerun.


D. Upaya penyelamatan hutan

Sangat  disayangkan,  kekayaan  alam  yang  luar  biasa  ini  belum  dikelola  dengan  bijak sehingga  belum  dapat membawa  keuntungan  bagi  masyarakat  Papua  dan  sebaliknya bencana.  Papua  merupakan  propinsi  dengan penduduk  miskin  tinggi  di  Indonesia  dan pernah  dilanda  bencana  kelaparan.  Banyak  perusahaan  asing  didirikan  di Papua  namun penduduk  lokalnya  tidak  mendapatkan  royalti  atas  kepemilikan  sumberdaya  alam. Perusahaan  asing yang  mengeruk  banyak  keuntungan  tidak menjaga  alam  Papua  setelah mengeksploitasinya habis-habisan. 

Pemerintah pusat telah mengeluarkan sebuah undang-undang yang sangat-sangat akomodatif dan memberikan kapada masayarakat lokal papua kewenangan yang seluas-luasnya untuk mengurus dirinya sendiri sehingga dapat maju dan sejajar dengan daerah-daerah lain di indonesia tercinta ini. 

UU tersebut adalah UU no 21 tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi provinsi papua yang merupakan salah satu tonggak sejarah baru bagi perjalanan masyarakat papua yang telah berintegrasi dengan Negara Kesatuan RI selama lebih dari 40 tahun. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa selama kurun waktu tersebut, semua sumber daya alam papua telah dikeruk dan dibawah keluar dari papua dengan slogan untuk pembangunan bangsa ini, sedangkan masyarakat lokal papua hanya menerima sebagian terkecil yang tidak sebanding dengan apa yang telah disumbangkannya bagi bangsa dan negara tercinta ini.

Secara khusus UU Kehutanan no 41/99 telah mengatur pengelolaan hutan dari sabang sampai merauke yang berasaskan kelestarian dan keadilan. UU ini telah selaras dengan UU 32/2004 dan UU 33/2004 tentang pemerintahan daerah dan perimbangan keuangan pusat dan daerah, namun sangat bertolak belakang dengan sebuah UU RI yang lain yaitu UU 21/2001 tentang otonomi khusus bagi provinsi papua, yang mana UU otonomi khusus yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat di provinsi papua ini memberikan keleluasan kepada masyarakat papua untuk dapat mengelola sumber daya alam hutannya untuk kesejahteraannya.

Pemerintah Indonesia sudah seharusnya mendukung kebijakan larangan ekspor kayu log (kayu bulat atau gelondongan) dari Tanah Papua meski ada sejumlah tekanan dari kalangan industri kayu untuk memberikan kelonggaran atas pemberlakuan kebijakan tersebut. Sebagaimana inisiatif Gubernur Papua dan Papua Barat tentang larangan ekspor kayu yang ditetapkan sejak tanggal 19 Desember 2008. “Seharusnya Pemerintah Pusat mendukung kebijakan ini agar hutan Papua dapat terus bernafas sebagai salah satu paru-paru dunia. Penggundulan hutan di Tanah Papua harus dikurangi secara terencana hingga mencapai titik nol dengan tetap memperhatikan kesejahteraan masyarakat Papua,” (Bustar Maitar, juru kampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara di Jayapura, Kamis (27/3). 

Pemerintah Pusat seharusnya mendukung komitmen penyelamatan hutan Indonesia sesuai dengan pembahasan Konferensi Perubahan Iklim di Bali. Terlebih lagi, laju penggundulan hutan tropis telah berkontribusi pada kenaikan emisi gas rumah kaca sekitar 20%.

Masyarakat  adat  Papua,  yang  secara  tatanan  sosial  lebih  dihormati  dari pemerintah  Papua  sendiri,  memegang peranan  penting  dalam  memberikan  pendidikan lingkungan. Baik pemerintah, LSM maupun pihak swasta harus mendukung peran penting masyarakat  adat  dalam meningkatkan  sadar  lingkungan  demi keberlangsungan  ekosistem.

Filosofi masyarakat adat Papua baik yang hidup di pesisir, lembah hingga pegunungan menganggap kehidupan manusia bersumber dari alam. Seperti juga masyarakat modern yang memandang tanah sebagai satu bagian ekosistem yang didalamnya terdapat interelasi antara tanah, air, hutan dan berbagai satwa, termasuk juga sumberdaya alam dalam perut bumi, masyarakat adat Papua memiliki pemahaman yang sama mengenai konsep ekosistem tersebut dalam konteks yang berbeda. Tanah dideskripsikan sebagai manusia yang memiliki banyak sistem dalam tubuhnya. Jika hutan sebagai salah satu sistem dalam ekosistem dirusak, maka kehidupan manusia juga akan rusak.

E. Harapan di Pundak Hutan Tropis Papua


Hutan Papua adalah permata terakhir hutan Indonesia, setelah hutan di kawasan Sumatera dan Kalimantan mengalami penghancuran besar-besaran karena pembabatan hutan dan konversi hutan secara luas untuk perkebunan kelapa sawit. Membiarkan peningkatan penggundulan hutan Papua pada tingkatan yang sama dengan kawasan lain tersebut, tidak hanya merupakan sebuah kejahatan lingkungan, namun juga kejahatan atas masyarakat Papua yang menggantungkan hidupnya pada hutan alam itu. 

Kita tidak dapat hanya berteriak ,“stop pembabatan hutan Papua, stop pengkonversiannya menjadi perkebunan sawit dan perluasan konsesi pertambangan”. Kita harus bergerak keluar dari istilah-istilah klasik ini. Kita tahu bahwa masyarakat adat Papua membutuhkan perbaikan dalam kondisi hidup mereka. 

Sekaranglah saatnya untuk melakukan aksi nyata. Perluasan areal pembabatan hutan di hutan-hutan alam asli yang tersisa harus dihentikan. Hutan Papua harus diselamatkan dan pengelolaan hutan berbasis masyarakat harus terus didorong.

Kita patut memberikan apresiasi terhadap beberapa kelompok di Papua yang telah mulai memanfaatkan kekayaan hutan Papua dengan memanen Buah Merah, Sarang Semut dan Kulit Masoi bagi produk obat. Beberapa agen perjalanan wisata di dalam dan luar negeri seperti di Eropa yang juga telah berusaha berbuat yang terbaik dengan menjual paket tour bagi wisatawan yang ingin menyaksikan burung Cendrawasih yang eksotis berdansa dengan pasangan-pasangannya menyambut pagi merekah, atau mengamati anggrek-angrek liar. Kita membutuhkan skema yang sustainable dalam mendukung masyarakat adat.

Meskipun hutan Papua adalah paru-paru yang menyerap jutaan ton emisi CO2 selama ratusan tahun, dunia belum berbuat banyak guna melindunginya. Kita membutuhkan aksi-aksi segera sebagai alternatif bagi konservasi puluhan ribu hektar hutan tropis Papua yang merupakan benteng terakhir hutan tropis di Indonseia bahkan di dunia, atau kita akan melihat kehancuran hutan kita seperti terjadi di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan jawa serta di berbagai belahan dunia.


Sumber : Buletin Konservasi Kepala Burung
Oleh : Rachmad Hariyadi (Calon Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Papua Barat)
foto : google

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s